Tuesday, November 07, 2006

Dear Panitia Osjur

Maafin, kemarin saya ga sempat ke Jatinangor. Kita atur waktu lagi nanti ya. Saya masih akan sangat antusias membahas ospek jurusan.

Saya percaya, semua kegelisahan kita tentang buruknya Fikom Unpad atau apapun itu, bisa diatasi mulai dari sini.

Melalui osjur, kita empower (berdayakan) sebuah generasi. Menjadikan mereka mahasiswa yang punya sebuah Gambar Besar, sebuah peta tentang apa yang akan mereka jalani. Tentang apa yang seharusnya mereka harapkan dan apa yang seharusnya mereka tuntut dari kampus. Apa yang seharusnya mereka dapat. Serta jalan mana yang akan mereka ambil.

Kita tidak ingin lagi mahasiswa-mahasiswa yang berjalan seperti zombie, go with the flow tanpa tahu apa yang sedang ia hadapi, atau ke mana arus ini sedang membawanya. Bagaimana ia bisa jadi mahaiswa yang kritis dan memulai perubahan, kalau ia sendiri tidak tahu apa yang ia inginkan.

Maka itulah intinya osjur. Menunjukkan pilihan-pilihan, dan mendorong mereka untuk menemukan pilihannya sendiri.

Seperti kata Pak Kunto, semua yang kita dapat di kampus ini seperti berkas-berkas yang berantakan, banjir informasi yang tidak terstruktur.

Kita butuh laci-laci berlabel agar kita bisa menempatkan semua informasi-informasi ini dalam tempatnya masing-masing, sehingga semua informasi ini menjadi sesuatu yang berarti.

Di poster, para peserta diperlihatkan suatu STRUKTUR. Barangkali untuk pertama kalinya, mereka mulai melihat mata kuliah-mata kuliah sebagai sebuah mata rantai yang saling berhubungan satu-sama-lain, dan membentuk sesuatu.

Dan Marx juga akhirnya sampai pada sebuah manifesto Pemberontakan, setelah mengawalinya dengan identifikasi terhadap Struktur. Whatever, nanti juga kamu dapet stumed lah.

Teman-teman, osjur adalah sebuah misi yang mulia. Semangatlah, dan banggalah menjadi bagian dari semua ini. Membawa perubahan, membina sebuah generasi, turut serta menjadikan mankom, dan fikom yang lebih baik.

Ambil tongkatnya dan berlarilah lebih kencang.

Untuk pandangan-pandangan ini, kita harus berterimakasih sama Pak Rakhman, Pak Kunto dan Bu Eni.

Bu Eni lah, yang pada pertemuan pertama di kelas PIM, memberi kita diagram mata kuliah di Media. Sejak saat itulah, anak Media -seharusnya- mulai menjadi peserta didik yang lebih aware dan empowered.

Lalu Pak Rakhman -masih di kelas Media- membuka mata kita selamanya dalam melihat media massa. Kita tidak lagi menerima keberadaan media sebagaimana adanya sebagai seorang penikmat saja, melainkan mulai bisa melihat betapa di balik media massa ada sebuah industri. Perlahan tapi pasti Sabtu, Pak Rakhman memperlihatkan kepada kami bagaimana indutri itu berjalan.

Tanpa ttugas-tugas dari Pak Rakhman, mungkin kita tidak akan kenal Cakram dan tidak akan benar-benar menghayati nikmatnya tidur enak di Malam Minggu setelah tugas beres.

"Hingga, Tidur terasa menjadi sebuah kemewahan" kata Pak Kunto, suatu hari.

Konsentrasi Media di mankom mempelajari media massa baik sebagai sebuah entitas ekonomi maupun sebagai institusi sosial.

Secara ekonomi, media massa memproduksi pesan yang menarik secara komersial, kepada audiens dan kepada pengiklan.

Secara sosial, media massa merupakan sebuah lembaga yang keberadaannya saling mempengaruhi dengan lembaga-lembaga lain dalam masyarakat.

Konfigurasi dosen serta materi perkuliahan di Media, memperlihatkan kedua aspek tersebut.

Demikianlah saya sedikit menceritakan, pemetaan saya terhadap konsentrasi Media di mankom. Kamu mungkin punya versi kamu sendiri. Ini entah jam berapa dinihari dan mata saya mulai berair.

After a long break

Saya udah lama ga posting. Setelah libur lebaran, berbagai kesibukan menghalangi saya untuk kembali menjadi seorang pengasuh blog. Maka saya baru sempat mengucapkan Minal Aidzin dst.. itu lewat blog sekarang.

Ketimbang mengurus sebuah blog tentang media, advertising dan fikom, saya sibuk menjalani hal-hal tersebut. Yah itu tadi, menjadi mahasiswa fikom sekaligus praktisi dalam industri ini (hikikik..). Belum lagi peran-peran lain dalam hidup saya.

You can't tell a story, if you don't have one.
But you can't tell a story if you're too busy looking for one, neither.

Yah itulah saya. Berlari ke sana kemari, mencari cerita untuk dijalani. Hanya supaya ada sesuatu yang nantinya bisa saya ceritakan.

Haha... memang susah yah, menjaga sebuah blog from being too personal.

Hmmppff...
Teks dan konteks.

Alamat JobTraining Radio Bandung

Kota Bandung, mungkin adalah salah satu kota dengan jumlah stasiun radio terbanyak di dunia. Setidaknya demikianlah kata Pak Duddy Zein pada suatu hari di kelas MPSR.

Bagi teman-teman yang bermaksud untuk jobtre di radio di bandung, saya harap bukannya cuma demi alasan kepraktisan (pagi ke kampus jatinangor, sore jobtre di bandung, malam nyusun skripsi di kosan, besoknya lulus deh)

Pertama, karena kepraktisan dan kemudahan tersebut adalah fatamorgana (tulislah tato di tangan bertuliskan "Remember Citra Indah Lestari" seperti di film Memento).

Bacalah perjuangan beliau di postingan terdahulu.

Kedua, karena ada alasan lain yang jauh lebih gaya untuk dikatakan kepada orang lain tentang alasan jobtre di radio Bandung. Kota Bandung teman-teman, adalah kiblat industri broadcasting radio di Indonesia. Di Bandunglah didirikan sekolah radio yang begitu gaul. Dari radio di Bandung juga nama-nama seperti Sogi Indradhuaja, Annisa Larasati Pohan Yudhoyono, atau Uwa Kepoh berasal (Uwa Kepoh adalah seorang tokoh penyiar jadul yang terkenal dengan berbagai karakter suara yang bisa ia perankan secara simultan dalam sandiwara radio, pada masa-masa di mana telepon belum meluas sehingga belum ada acara salam-salaman dan request-requestan), ada yang bisa bantu saya melengkapi Hall Of Fame ini?

Barusan adalah intro untuk postingan berikut ini. Sebuah titipan dari seseorang khusus (someone special) yang namanya tadi telah saya sebut dengan gamblang.

Inilah titipannya, semoga bermanfaat:
--------------------------------------------------------------------------

Tentang job tre di radio bandung, ini beberapa radio dimana saya pernah menimba dan mendedikasikan ilmu :p...

99r:
kalo pengen di bagian program, call Fera Program Director... kalo di bagian promosi/PR/Marketing call George (Joje) - Marketing Manager... telponnya ke 4222666.
Alamat: Jl. Asia Afrika No. 57-59 BRI Tower 14th Suite

Prambors (anak muda)/Female (dewasa muda) /Delta (dewasa abis)...
kantornya ada di Hotel Preanger (bentar lagi pindah sih, ke mall deket rumah kamu yg ada Carefour ama SOGO itu)... tapi sekarang masih di Hotel Preanger,Jl. Asia Afrika No. 81. Telp: 4224546. Program Director (PD) FeMale: Benny. PD Prambors: Willy. PD Delta: (lupa namanya, tapi masih inget mukanya :D).. radio baru, banyak tantangannya nih...

SE mau ga?hehehehehe.... kalo magang di SE, pasti bakal kerja berat... soalnya mereka kekurangan SDM, jadi anak magang pasti sangat dikaryakan... Kalo rajin, bisa belajar banyak (bahkan bisa langsung diangkat... waktu jaman saya jadi PD disana, saya ngangkat 3 anak Fikom 2001 jadi produser , gara2 pas magang mereka kerjanya oke... ), .... telp 2034567 (CP nya yang saya kenal udah pada pindah
:D).. kantornya di Cihampelas (Premier Supermarket - yang ada McD), sebrang Ciwalk... tepat di bawah Studio East... (lupa alamat kumplitnya)

yang biasanya open juga buat anak magang: MQ, Mara, PAS FM...

alamat n no telp, coba check ke http://www.geocities.com/bandungcity/radio.htm
atau
http://ms.wikipedia.org/wiki/Daftar_Stesen_Radio_Indonesia

eh mau magang di GREY Magazine? lumayan lhoh bisa ngeceng anak SMA melulu :D... coba hubungin Mo Sidik, Editor In-Chief. Telp ke 4219609. Alamat: Jl. Sulanjana 11, Bandung

Jadi, masih mau belajar?

Saturday, October 14, 2006

Inspirasi Permed

Ini buat inspirasi Permed

detikINET (bagian dari detik.com), menyelenggarakan pelatihan nge-blog buat ibu-ibu!
Dan pelatihan-pelatihan lain untuk berbagai komunitas.

Liat itu, laptopnya banyak bgt!
Klik di sini


IT Literacy?

Alamat Agency Bandung Buat Jobtre

Temans, kmrn bnyk yg tny ttg kmngkinan jobtre d advertising agency Bdg.

Ada bnyk keuntungan jika kita jobtre di agency Bdg:

1. ga usah mikirin susahnya living in Jkt

2. kalo udah nerima, mrk biasanya sgt kooperatif dan kekeluargaan

3. bs smbil mjalani hal ln di Bdg

Berikut ini bbrp agency yg setau sy ckp terbuka dan mgkn nerima jobtre.

SKALA Jl Dipatiukur no 23 2504923/2509526

ENKAPE (PT NUANSA KREASI PRATHAMA) Jl. PHH. Mustopa No. 35 Lt. 1 70696272/70145368

MITRAMARK (PT PROMO NIAGA MITRA MARKINDO) Jl Arum Sari I No 5A Bbk Sari Kircon 7203497

SMALL & SMART: CV SMAAL & SMART jl. Ir. H.djuanda NO. 426 70714104/2533409

CABE RAWIT BANDUNG ITC Kosambi C22 Jl. Baranang Siang 4222086

Cresion Creative Community Jl. Ciumbuleuit 151C 2nd floor 2043204

Gudluck!


Untuk informasi jobtre di radio, ada mau share info?


Untuk informasi seputar Tugas Perencanaan Media (Kampanye Medlit), blog ini juga menyediakan resource center. Letaknya di sebelah kanan kamu ini, dalam box. Semacam portal yang berisi link menarik.

Semoga bermanfaat

slmt lebaran dan liburan

mhn maap lahir batin

Dedicated To Mas Wowox

Satu lagi tulisan inspiring darinya.
*Cit, kamu mau saya sebut nama di sini? We havent discussd this :p

---------------------------------------------------------
My Relationship With Foucault

Mengenal kamu memang membuat saya merindukan masa-masa dulu…

Masa-masa saya, Mas Wowox, dan Bebek Kuning bertengkar soal Foucault…

Aku ngga peduli Foucault ngomong apa lagi! Aku cuman mau pake teorinya yang ini titik. Aku ngga mau eksplor dia lagi! Semakin di-eksplor, aku makin kehilangan arah!!”

Lalu, masa-masa saya menangis, memohon supaya skripsi saya ngga perlu diselesaikan…

Aku ngga pernah bisa ngeliat ujungnya…aku ngga bisa ngebayangin gimana skripsi ini selesai… ”

Saya memang keras hati… Sejak pertama saya denger CDA ala Foucault, saya tahu bahwa teori itu bisa membuktikan teori saya tentang media… dan saya ingin membuktikannya… Meskipun….

Cieee, Cicit… gaya banget deh pake Foucault!”

Alaah, kenapa susah-susah sih? Yang penting lulus cepet lah cit…”

Cuman satu yang dukung saya waktu itu… mendukung, menemani, membantu, dan meyakinkan bahwa CDA akan menemukan ujungnya dengan sendirinya…

Tolong sampaikan tulisan ini ke Mas Wowox ya… Saya ingin dedikasikan ini karena dia selalu ada saat itu..

Asumsi Awal: Dua tahun bekerja sebagai pengelola pesan di media, membuat saya menolak mentah-mentah teori klasik bahwa media itu jahat. Bahwa media dengan sengaja mempengaruhi khalayaknya, membentuk agenda setting, menusuk khalayaknya seperti jarum suntik dan memaksakan pengaruhnya…

Bagaimana saya bisa setuju? Dalam menyusun pesan, banyak hal yang harus saya perhatikan… Harus sesuai trend, harus sesuai kebutuhan pendengar, harus sesuai kemauan pengiklan, harus begini-harus begitu…

Langkah Awal: Saya adalah generasi yang ingin eksis. Generasi yang selalu up date dengan trend. Dan saya punya cita-cita untuk selalu eksis di dunia populer. Jadi, skripsi saya harus populer doong?!

Satu terminology yang sedang trend saat itu: METROSEKSUAL!!

I have to use that terminology di skripsi saya..

Masalahnya… saya tidak menemukan teori yang bisa saya gunakan… Sampai saya dikenalkan pada Foucault yang percaya pada kecelakaan sejarah… yang mengatakan bahwa Y tidak selamanya disebabkan oleh X…

So I have to use Foucault to verify my theory… No Matter What!!

Perjalanan Panjang: Dasar dari Foucault adalah sejarah. Jadi saya berkelana mencari asal muasal Metroseksual…

Saya berkenalan dengan Mark Wahlberg dan celana dalam Calvin Klein-nya yang terkenal: SHORT BRIEF

Saya juga berkenalan dengan Mark Simpson, gay yang menciptakan kata METROSEKSUAL…

Saya sampai bercita-cita bekerja di Mark Plus & Co karena merekalah agency Indonesia yang pertama kali melakukan riset tentang Metroseksual…

Saya juga harus berkencan dengan Ery Prakasa, Editor In-Chief FHM Indonesia, majalah laki-laki yang dinobatkan sebagai majalah metroseksual pertama di Indonesia (kenapa nama editor in-Chief nya bukan Mark Prakasa ya?)

Tapi itu baru awalnya…

Setelah berbulan-bulan menyusun sejarah panjang Metroseksual (silakan liat cerita lengkapnya di jurusan), saya harus mencari relasi kuasa antara Metroseksual dan FHM… Jadi saya harus mengupas satu demi satu semua rubrik di FHM… mencari hubungan antara kajian feminis, aktivitas kaum gay, kapitalisme, dan kebiasaan pria-pria straight metroseksual yang doyan grooming… icon nya adalah






Saat itu, siklus hidup saya adalah:

11 to 8 kerja di Radio – 8 to 3 ngetik skripsi – 7 to 10 bertengkar sama mas wowox membahas skripsi…

Dan, skripsi saya masih juga belum selesai…

Karena seminggu sebelum deadline penyerahan skripsi, Bu Eni menyatakan bahwa kajian saya terlalu focus ke wacana Metroseksual dan tidak mengupas FHM –sang media- cukup dalam…

Putus asa… mau nangis…mau muntah… mau mati…

Seminggu penuh ngejar-ngejar orang FHM, pulang pergi Jakarta-Bandung untuk menyaksikan mereka memproduksi satu FHM, begadang dengan mas Wowox, bebek kuning, dan kopi tubruknya…

Akhirnya: saya berhasil membuat peta relasi kuasa antara rutin media FHM, kajian feminis, perilaku gay, dan kapitalisme…

Saya berhasil membuktikan bahwa FHM tidak hanya memproduksi pesannya karena kapitalisme… bahwa FHM adalah sebuah media yang tunduk pada kuasa-kuasa lain yang tidak terduga… Coba, siapa yang setuju bahwa FHM ada karena semangat feminis perempuan semakin kuat?! Teori yang susah diterima kan? Well, but it is!!

Ingin sekali dengan bangga saya tampilkan peta tersebut… tapi file nya udah entah dimana… (mungkin mas Wowox masih simpan?)

Dengan sombong, saya akan menyatakan bahwa peta itu sangat spektakuler. Memang ada satu panah yang salah arah, tapi toh tidak satu pun dosen penguji menyadarinya kecuali Mas Wowox dan Bu Eni yang saat itu ada di kubu saya… hehehe…

And here I am… dengan sombong pula saya ingin bilang bahwa…

Meskipun kamu bekerja full time sambil kuliah, meskipun kamu ingin mengusung tema paling populer dengan menggunakan pisau analisis kritis paling rumit, kamu tetap bisa lulus 4 tahun dengan predikat cum laude… :D

Berpikir kritis dan tetap trendy… salah satu misi hidup saya yang masih saya jalani, hahahaha…. (bahasa Pak Rachman adalah Otak kiri-Kantong kanan)

Dan dengan rendah hati, saya ingin bilang bahwa… kalau saya tidak belajar di Manajemen Media Fikom Unpad, itu semua tidak akan terjadi…

Thursday, October 12, 2006

Her Side Of The Story

Ini adalah cerita yang sama, dari sisi yang berbeda -which is more vivid and narrative than mine.
Dan kami berkomitmen (berkomitmen!), untuk mengembalikan blog ini ke khitahnya.
Her favourite quote dari Foucault, dan a glimpse of CDA itu bukan sekadar bumbu Media Studies. Tulisan ini buat saya reflektif dan kontemplatif. Seperti meletakkan kembali segelas kopi tubruk untuk membiarkannya mengendap, setelah beberapa tegukan yang panas.
It's nice that she wants to share it with you, guys!
Semoga ada hikmahnya.
Sincerely,
Pengasuh Blog Ini
-----------------------------------------------------------------------
Sekedar Berbagi
The Unique Rendezvous in Bandung…


I never thought that Bandung would be that sexy… Always in my mind, Jakarta is sexy and Bandung is nice…

The Prequel
Mengenal Jakarta itu seperti memulai belajar filsafat atau Critical Discourse Analysis (CDA). Memahami Jakarta yang sesak, macet, kotor, dan palsu, hampir sama dengan mencoba berkonsentrasi memahami setiap kalimat
dari mas Wowox (later on I complained:”Mas, bisa ngga ya kalo ngajar milih kata-kata yang lebih sederhana?”)

Stress menjalani rutinitas 9 to 9 di Jakarta bisa dibilang hampir sama dengan kebingungan setelah selesai membaca satu kalimat dari Foucault dan masih juga ngga ngerti… Setiap mematikan computer kantor di malam hari dan pulang ke kos, kok rasanya masih belum ada esensi…

Tapi, setelah beberapa saat… setelah kita tahu apa yang dimaksud dengan jika X tidak selamanya menjadi Y. Dan setelah kita bercanda dengan relasi kuasa, ternyata CDA itu menyenangkan… ternyata CDA cukup seksi… Bahkan, teori nyeleneh saya tentang ke-impoten-an media pun bisa dibuktikan dengan CDA… that was very amazing…

Dan itu pula yang terjadi disini… setelah beberapa saat, saya mulai menikmati hidup di Jakarta. Seat back and relax, berpikir tentang mimpi di tengah kemacetan Jakarta… bercanda dengan rutinitas 9 to 9 dengan selalu mencoba think out of the box (kiasan klise ini ternyata cukup berguna)… dan berdiskusi tentang hari itu dengan beberapa teman di Starbucks atau di Oh La la atau di emperan blok M (cumi asinnya enak banget).. and yes, I found it interesting… I found that the more you enjoy Jakarta, the more you get from Jakarta… and it was amazing…

And that’s how I found that Jakarta is sexy and Bandung is nice…
Menemukan banyak hal baru di Jakarta dan tetap selalu ingin pulang ke Bandung yang nyaman…


The Scene
Tit-tut tit-tut (bunyi sms handphone Samsung milik saya yang seperti tukang roti)
Mas Wowox: “Cit, isi kelas permed lagi ya? Anak-anak pilih media literacy. Bagi2 pengalaman kamu di WB dong!”

And even though I was no longer in WB…
And even though pengalaman saya cuman seuprit…

Pergi ke Bandung yang nice dan kesempatan berbagi pengalaman ke anak2 mankom were very tempting (dulu saya ngga pernah belajar ttg apa yang saya alamin di lapangan. Dan saya pikir, kalian harus tau, biar ngga sebodoh saya kalo udah ke lapangan)

“Saya ajak Meylin ya, siapa tahu nanti dia bisa bagi pengalaman di advertising”
send to: Mas Wowox
(sayang sekali materi presentasi Meylin ilang… well she’ll be back for you in months)

And there I was…
Berdiri di depan kelas dengan senyum sok pe-de. Memanggil kembali memory saya tentang berkomunikasi dengan komunitas. Dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang susah-susah (eh, kalo masih ada pertanyaan silakan dilempar lagi. Sekarang sourcenya untuk mencari jawaban udah lebih banyak).

Puas sekali siang itu… semoga pengalaman se-uprit itu cukup berguna… 10 menit presentasi itu hasil dari belajar selama setahun lho… soalnya, supervisor saya di WB juga ngga tau apa-apa ttg communication development… Oh ya, saya ada modul pelatihan singkat tentang community development (nanti di-share sama anak2 ya Mam)…

The Sequel
Dan kemudian… saatnya menikmati Bandung yang nice…
Kebetulan saya tidak puasa. Ke salon bandung yang murah, strawberry special yoghurt di Cisangkuy, dan Bertemu dengan beberapa peer group dalam satu malam -that’ll be imposibble di Jakarta… 2 meeting dalam satu hari di dua tempat adalah luar biasa - Bandung is always nice you know?!!

Dan kamu memang tidak pernah tahu bagaimana sms bisa jadi berkepanjangan, dan bagaimana hasrat yang besar untuk membagi pengalaman bisa membawa kita ke duduk sebelahan di starbucks… (senang sekali bisa membantu kamu mencapai salah satu mimpi kamu – being at starbucks, hahahaha…)

“Saya pengen kerja di multinational agency”

“Kayaknya keren aja”

“Saya kenal strategic planningnya…”

“Emang gimana cara kerja multinational agency? Gimana kerja mereka di local?”

Dan pertanyaan-pertanyaan itu sangat menyenangkan untuk dibahas… at least kami merasa, kami bisa juga memenuhi cita-cita masa kecil kami: Menjadi Berguna untuk Nusa dan Bangsa….

Dan saat pembicaraan menjadi nyaman… saat saya diajak melihat nice-nya Bandung dari sisi lain… And that’s how I found the sexy side of Bandung… And yes, I do enjoy it...!!

Sekarang kamu percaya kan? … Y bukan hanya disebabkan oleh X… ada A,B,C,D, …, sampai X yang menyebabkan Y ada…

Wednesday, October 11, 2006

Siapa yang Tahu Hari Ini Akan Jadi Seperti Apa

Ketika kamu bangun dan berpikir bahwa hari itu adalah kuliah biasa, well ternyata tidak.

Ketika kamu mengetik SMS dan berpikir akan mengakhirinya pada 1-2 SMS, next thing you know, the chat went on and sucks your pulse. But you really don’t mind. Oh, no you don’t.

Memang sejak awal, first impressionnya telah mengingatkan saya pada seseorang, dan ketika dia mulai, sesuatu terlintas dalam benak saya.

Lalu sosok yang pagi itu mengajar di depan kelas, tiba-tiba duduk di sebelah kamu dan kita minum kopi bersama –being at Starbucks, buat saya selalu menjadi bagian dari sebuah narasi tentang lulus dan berkarir. Waakakakaaa

Mahasiswa bodoh ini nampak antusias dan excited,
dalam perbincangan yang sebenarnya tidak begitu dia pahami.

Kesannya seperti tuanrumah yang tamunya gantiganti.
Kali ini bersama Funky DJ Adhen dan Chandra Cupumanik
(yipee i do remember names)

Dan ketika kita mulai berpikir bahwa malam yang asik dan dipenuhi teman-teman baru itu akan segera berakhir, we went on dan surprisingly it went very smoothly.

Saya selalu menikmati saat di mana mereka bertanya-tanya, jalan yang mencekam ini akan membawa mereka ke mana. ”Kamu yakin ada tempat muter nanti, Mam?”

Lalu citylight mulai kelihatan. Ini sensasi yang orgasmik.

Bandung citylight. Sulit ditangkap kamera. You really go to see it to believe it

Seorang Communication Consultant (eh, apa namanya?) di sebuah yayasan terkemuka di bidang pendidikan, dan seorang Media Planner di sebuah agency multinasional, yang keduanya bekerja nine to five (oh, bahkan sampai malam yah?) di Jakarta yang sesak, will appreciate this sight.

Cool.
It’s merely physical…..


They did. It always works. I am a serial killer.
Konteksnya memang berubah. It is a progress and I do enjoy it too :)


Mungkin ini dosa blogger yang OOT.

the light and the sight

Tapi kalau kamu mendesak, di mana hubungan postingan ini dgn tema besar kita, well... saya cuma bilang bahwa Kita Semua Anak Mankom Nih!

Perhatikan keywords berikut ini: Publicis, McCann, WorldBank, Sampoerna Foundation, Communication Consultant, Postmomod Institute Of Media and Cultural Studies
Haha... (siapatahu keywords ini bisa memancing search engine)

Saya berjanji, setelah ini saya akan kembali posting hal-hal yang cukup penting untuk kamu baca dan copy dan print mungkin, buat baca-baca....

Dan yang satu ini mungkin tidak terlalu mengalir untuk dibaca, karena berbagai pertimbangan yg jadi restrictions buat saya untuk menceritakannya dengan bebas hikikikkk...

I dont even mention your name, girls.


Monday, October 09, 2006

Mari Melawan Lupa

Kasus Munir, setelah dibebaskannya Pollycarpus dan revitalisasi TPF oleh Presiden, kembali menjadi sorotan. Tapi sampai kapan? Akan ada hal-hal lain yang diagendakan media massa sebagai headline, mengubur cerita lama ini, sehingga kita kembali lupa.




Mungkin seperti ini pula Almarhum dulu berpikir. Hingga ia terus memperjuangkan keadilan bagi luka-luka lama. Munir berjuang demi menegakkan keadilan bagi mereka yang ditindas, dibungkam, dan dihilangkan. Betapapun media massa menemukan hal-hal baru untuk diceritakan, bukan berarti kisah yang lama telah menemukan penyelesaian. Dan ada bukunya loh, Sebuah Kitab Melawan Lupa

Tapi kita mungkin bukan aktivis. Dan kita mungkin akan menelan ludah *glek*, ketika berhadapan dengan anjing-anjing fasis yang tak kasat mata.

Namun siapa lagi?

Hey, kita-kita inilah klas menengah Indonesia, kaum terpelajar, pekerja berkerah yang bisa internetan, punya cukup pengetahuan dan wawasan, punya lebih banyak akses informasi ketimbang masyarakat lain.

Sebarkan dan ceritakan. Ingatkan orang-orang. Informasikan.

Kalau kita memang selalu ingin eksis dan ikut tren, jadikan Kepedulian sebagai sesuatu yang keren.

Sehingga anjing-anjing fasis yang tak kasat mata itu melihat. Bahwa kalo mau blacklist dan menyadap, mereka terpaksa melakukannya pada kita semua.

Karena kita semua telah sadar bahwa keadilan harus ditegakkan. Bahwa kita adalah bangsa yang tak akan membiarkan penjahat melenggang jadi pejabat. Bahwa kita manusia yang punya sistem dan peradaban. Dan sistem itu semestinya melindungi mereka yang lemah, menegakkan keadilan, memberdayakan yang tertindas.

Ini bukan tentang sosok seorang individu bernama Munir yang telah mati.
Karena Munir bukan milik janda dan anak-anaknya, Munir adalah simbol milik kita semua.

Ini tentang perjuangan keadilan melawan kezaliman; melawan anjing-anjing fasis yang masih terus beroperasi dengan uang rakyat. Kita tunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang dewasa, yang rakyatnya tidak perlu diawasi dan ditakut-takuti untuk bersatu. Kita lebih pintar dari doktrin-doktrin fasisme itu.

Sebarkan dan ceritakan. Karena jika kita terus membiarkan, kita tidak akan pernah benar-benar jadi sebuah bangsa manusia.

Friday, September 22, 2006

Batasan SES 2006 Versi Nielsen

Sambil ngerjain tugas PerMed (pas bagian menentukan demografi target segmen), saya jadi inget sesuatu. Batasan SES Nielsen tahun 2006 udah diganti:

A1= Rp 3 ooo ooo ke atas
A2= Rp 2000 000 - 3000 000
B= Rp 1500 000 - 2000 000
C1= Rp 1000 000 - 1500 000
C2= Rp 700 000 - 1000 000
D= Rp 500 000 - 700 000
E= Rp 500 000 ke bawah

Besarnya SES dihitung dari pengeluaran rutin rumahtangga per bulan.
Perubahan batasan SES, dipengaruhi oleh inflasi dan makroekonomi lainnya.

Melihat daftar ini, kita bisa bayangkan betapa masih ada rakyat Indonesia yang keluarganya hanya bisa menyisihkan kurang dari 500 ribu per bulan untuk kebutuhan rutin mereka. Kontrak rumah, air, listrik, belanja makanan, minyak tanah, sekolah anak-anak..

Memasuki bulan puasa, hal-hal kecil seperti ini semoga bisa jadi tambahan semangat kita beribadah.
Berempati untuk merasakan pedihnya lapar.
Memperbanyak sedekah.
Mensyukuri kemudahan dan kelapangan yang kita nikmati hingga saat ini.

Semoga bermanfaat.

Tuesday, September 19, 2006

Critical Discourse Analysis

Tulisan ini adalah catatan saya seputar CDA, dari workshop Metode Penelitian Komunikasi bersama Pak Jalaluddin Rakhmat, yang diselenggarakan oleh Jurusan Manajemen Komunikasi Fikom Unpad, yang diadakan tiap Rabu di Gd.I Lt.I.


Critical Discourse Analysis adalah sebuah metode analisis yang melihat teks, konteks dan pemaknaan, sebagai sebuah diskursus yang berkelanjutan, sambil membongkar dominasi dan hegemoni yang terjadi dalam proses diskursus tersebut.

Tujuan CDA adalah membongkar bagaimana suatu konsepsi tentang dunia, menjadi sesuatu yang fixed, dan dilestarikan sebagai kebenaran.

Critical Discourse Analyisis diperkenalkan oleh Van Dijk, namun metode ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh tradisi-tradisi yang berkembang sebelumnya, antara lain; postmodernisme, linguistik, strukturalisme dan post-strukturalisme.

Postmodernisme adalah studi yang menyangkal narasi-narasi besar tentang kehidupan, orientasi dan nilai-nilai yang sifatnya homogen, linear dan akumulatif.

Strukturalisme berawal dari studi kebahasaan. Bagaimana hubungan antara bahasa makna dan realita, membentuk suatu struktur. Post-strukturalisme melihat bahwa proses pembahasaan dan pemaknaan itu sebagai sebuah proses yang terbuka dan berkelanjutan, ketimbang sebagai sebuah struktur yang statis.

Diskursus pemaknaan dalam masyarakat, amat terbuka dan rentan terhadap dominasi dan ketimpangan. CDA mengambil gagasan ini dari neo-marxisme, di mana masyarakat dipandang sebagai struktur kelas-kelas yang saling berebut kekuasaan dan pengaruh. Kelas yang dominan akan mendominasi pula pemaknaan, serta memonopoli pemaknaan, hingga lebih jauh, pandangan terhadap dunia, nilai-nilai, dan norma.

CDA terutama diterapkan pada teks di media massa. Teks dan pemaknaannya, tidak bisa dilepaskan dari hubungan kekuasaan dan kapitalisme. CDA digunakan secara luas oleh feminis, dalam upaya membongkar dominasi gender di masyarakat.


Dalam memberi materi workshop, Pak Jalal tetap memandang dirinya sebagai ustadz, sehingga beliau selalu menyelipkan muatan-muatan keislaman sesuai keyakinannya yang kontraversial haha..

Saturday, September 09, 2006

Portal Literasi Media

Sebagai tuntutan kurikulum di semester 7, Outstandjing sekarang dilengkapi dengan mini-portal menuju resources seputar Media Literacy. Mini-portal itu sebenernya cuma daftar kecil link yang menuju ke pencarian dasar seputar MedLit. Itu tuh, di sebelah kanan kamu. Postingan saya juga secara bertahap akan semakin diwarnai topik ini.

Bukan buat kepentingan akademik kita aja, Media Literacy adalah untuk kepentingan semua orang, agar kita menjadi penikmat media massa yang aware, dan mampu menempatkan media dalam kehidupan kita secara proporsional.

Untuk tuhan, bangsa, dan almamater, kata anak ITB mah.

Untuk teman-teman mankom 03, mari kita berbagi temuan dan mari kita diskusi. Saya jarang bgt YM, jadi kirim-kiriman aja via e-mail, gimana? Kamu juga bisa kirim pertanyaan-pertanyaan, nanti kita bikin jadi FAQ seputar Media Literacy. Kan kedengerannya keren tuh, FAQ.

Semoga lancar dan enjoy, dan kita bisa memetik hikmah sebanyak-banyaknya. Buat yang lagi jobtraining sambil kuliah- atau kesibukan lainnya, semoga bisa bagi waktu dengan asik. Kapanpun, insya Allah saya mah hayu brangkat lah. Apakah itu Lembang, Ciater, Ciwidey, karaoke, atau sekadar nongkrong bareng. Seperti kata Herbert Marcuse, work and play lah. Hahah..
Cheers!

Friday, September 08, 2006

Ketika Instansi Butuh Jasa Periklanan

Pada jaman OrBa, pemerintah dan instansi-instansinya mudah saja membentuk opini publik dan membuat pengumuman. Karena kharisma pemerintah yang kuat di mata masyarakat, dan karena pengaruhnya sangat kuat di media-media massa saat itu.

Kalau menggunakan analogi Plato, saat itu kita hidup di gua yang gelap, sementara pemerintah adalah satu-satunya Dalang yang mengendalikan wayang sekaligus sumber cahayanya. Kita melihat cerita wayang tersebut sebagai satu-satunya realitas, narasi kehidupan.

Jadi, saat itu pemerintah tak perlu repot dalam mengumumkan sesuatu. Gampang saja, semua faktor produksi dalam industri media, memang ’dipegang’.

Belum lagi, dalam proyek-proyek yang butuh outsourcing, instansi tinggal tunjuk saja perusahaan rekanannya. Tidak pakai tender.

Sekarang setelah reformasi, demokratisasi, dan desentralisasi, baru deh.

Sementara tuntutan untuk keterbukaan dan akuntabilitas semakin tinggi, ternyata paradigma lama belum sepenuhnya ditinggalkan.

Kita lihat di koran (yang telah ditentukan), bagaimana instansi dari berbagai daerah memasang iklan. Mereka mengadakan tender-tender pengadaan jasa maupun barang yang bidangnya beragam. Banyaknya bidang konstruksi. Tapi ada juga bidang komunikasi dan pemasaran. Advertising.

Masalahnya adalah, tender-tender tersebut sepertinya diadakan untuk memenuhi tuntutan akuntabilitas saja. Tidak seperti pitching yang mengadu kreativitas konsep, mekanisme tender yang diadakan pemerintah lebih menekankan pada persyaratan administratif.

Kita bisa mengerti ini, bahwa syarat-syarat administratif dan ajuan harga, lebih mudah dipertanggungjawabkan akuntabilitasnya ketimbang konsep.

Jauh lebih mudah membuat laporan tentang terpilihnya agensi besar —yang surat-suratnya lengkap dan gedungnya milik sendiri, dan SDMnya S2 semua— dan memberi harganya bagus.... ketimbang melaporkan terpilihnya sebuah konsep ILM kreatif yang muncul dari agensi yang entah-namanya-apa. Apalagi kalo penawaran harganya ngepas sama pagu.

Instansi-instansi itu memang diperiksa oleh Inspektorat dan BPK, dari sisi administratif. Dan administratif itulah yang dijunjung.

Mereka lupa bahwa ILM, dalam banyak sisi, lebih kompleks dari iklan komersial karena tujuannya mengubah perilaku masyarakat.

APBN, uang rakyat itu harus dipertanggungjawabkan, dengan mengalokasikan dengan sebaik-baiknya demi kepentingan rakyat. Administrasi dan birokrasi hanya mekanisme saja untuk mencapai tujuan tersebut.

(tulisan ini nantinya mau disambungin sama Habermas, kebayang ga? sama saya mah belum, malah..)

Tuesday, August 29, 2006

Menjadi Peserta Lomba Kreatif

Udah dua kali ikutan ajang kreatif. Semuanya ajang untuk mahasiswa. Semua bersama partner saya Egus (Bagus W. Isattama)

Ad Student Pinasthikha Ad Fest 2006Saya dan Egus jadi finalis lewat karya ini (btw, ko warnanya jadi gini yah). Di Jogja selama seminggu. Dengan keramahan dan dedikasi para panitia, dan serunya para peserta lain di sana, dan gilanya Pak Djito Kasilo, pengalaman kami di Jogja bukan tentang berlomba dalam sebuah ajang kreatif lagi, melainkan lebih dari itu. Sebuah awal persahabatan.


BG Award Citra Pariwara 2006Konsepnya, bahwa mimpi itu tidak hanya terdiri dari harapan indah tapi ada unsur ketakutan dan kengerian juga dalam sebuah mimpi.

Sayang, juri kurang melihat keunggulan karya ini (Hahaha) Saya dan Egus pun gagal menjadi finalis. Kali ini.

Polemik Abadi Itu

Kata Pak Totot (http://pakde.com), ada sebuah polemik abadi dalam periklanan. Apakah iklan yang kreatif (iklan award-winning) itu memang mencapai tujuannya, menjadi iklan yang menjual?

Maka kemudian Pak Totot mengutip sebuah penelitian:

Riset 2002, yang dilakukan oleh Leo Burnett Worldwide, melibatkan 250 iklan (televisi) yang paling sering memenangkan award di berbagai festival periklanan di seluruh dunia selama 1999, 2000, dan 2001. Kepada biro iklan pembuat iklan tersebut diajukan lima pertanyaan sederhana. Pertama, apa tujuan iklan itu? Kedua, menurut pendapat biro iklan dan klien, apakah tujuan tersebut berhasil dicapai? Ketiga, jika “ya”, berikan penjelasan rinci. Keempat, jika “tidak”, apa penyebabnya? Dan kelima, berikan rincian award yang diraih oleh iklan tersebut.

125 biro iklan dari 26 negara -- mewakili 172 iklan pemenang award -- memberikan jawaban. Hasilnya, 82% berhasil mencapai tujuan yang disasar. Dari jumlah itu, 65% sukses mencapai target penjualan dan 35% sukses meraih tujuan lain ( awareness, perubahan citra, dan sebagainya). Semua didukung dengan data hasil penjualan dan bukti lain seperti tracking studies, dan lain-lain.

Dan para kreatif, dengan penuh semangat, menemukan pembenaran. Bahwa apa yang mereka lakukan memang benar-benar bermanfaat bagi pemasar.

“Buatlah iklan berbobot award winning, karena iklan jenis itu punya peluang 82% mencapai tujuan, termasuk sales,” kata Enin Supriyanto, Creative Director Satucitra Advertising. Untuk mereka (biro iklan dan klien) yang menginginkan keduanya sekaligus (sales dan award), lanjutnya, pilihan yang tersedia sebenarnya jadi tinggal satu: buatlah iklan sebagus-bagusnya!

Gandhi Suryoto, Executive Creative Director biro iklan Dentsu, segendang sepenarian. “82% business success menurut riset itu, kurang memberikan bukti apa lagi?” kata praktisi periklanan langganan pemenang award ini. “Buat saya tetap, advertising adalah business of creativity. Saya setuju satu-satunya agenda praktisi periklanan saat ini adalah: buatlah iklan sebagus-bagusnya! ”

Kemudian saya mencoba mengkritisi polemik ini. Dari sudut yang mungkin terlewatkan.

Pertama, penelitian itu dilakukan dari satu pihak (orang kreatif), di mana ada tendensi, point of view yang dimiliki oleh peneliti. Isunya adalah netralitas.

Dalam kepentingan dan sudut pandang, seorang peneliti akan mengesampingkan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang menjadi kepentingannya. Minimal, ada biasnya lah. Independensi dan netralitas. Ini poin pertama. Karena itu kita harus melihatnya secara keseluruhan. Bukan Cuma hasilnya, melainkan juga latar belakang dan konteks di balik penelitian tersebut.

Bukan berprasangka bahwa peneliti melakukan manipulasi, melainkan memaklumi kenyataan bahwa fenomena sosial tidak terjadi dalam suatu ruang hampa melainkan dalam constrain-constrain yang nyata. Dalam hal ini, constrain tersebut adalah sebuah bisnis raksasa yang melibatkan perusahaan-perusahaan multinasional (bisnis advertising).

Dalam penelitian tersebut, kita tidak mendapati kontra sebagai pembanding. Bagaimana dengan iklan non-award-winning? Sejauh mana perbedaan efektivitas iklan yang award winning dengan yang tidak. Ini poin kedua. Comprehensiveness.

Poin ketiga, berkaitan dengan publisitas sampingan. Iklan yang award-winning mendapat publisitas sampingan dari liputan seputar kemenangannya. Mengapa saya mengkategorikan ini sebagai publisitas sampingan? Karena ia bukan sesuatu yang direncanakan dalam strategi media placement dari pemilik merk dan konsultannya. Ia berada di luar konteks pemasaran merk yang diiklankan. Karena ia bukan sesuatu yang dapat direncanakan dengan pasti. Kita tidak bisa memastikan suatu iklan akan menang award lalu diliput oleh sekian majalah kreatif dan pemasaran. Kalaupun ia memang diliput, sifatnya insidental. Dan media yang mempublikasikannya belum tentu sesuai dengan segmentasi khalayak yang dituju oleh iklan tersebut. Akankah kita di seluruh penjuru Indonesia tahu Kopi Blandongan seandainya iklannya tidak menang award dan diliput media? Dan, apakah liputan tersebut membuat kita —orang-orang iklan dan media dan pemasaran, datang ke Jogja untuk mencoba kopi tersebut?

Poin ke-empat berkaitan dengan literasi dan konteks budaya. Jika dicermati dengan seksama, iklan-iklan yang award-winning berasal dari negara-negara dengan tingkat apresiasi dan literasi yang tinggi. Orang-orang yang kreatifitasnya award-winning, berasal dari negara seperti ini, dan masyarakat yang apresiatif pun, berasal dari negara seperti ini. Iklan adalah komunikasi, yang efektivitasnya tergantung sejuah mana kesamaan FOE dan FOR dari para komunikator dan komunikan. Sekali lagi, fenomena sosial terjadi dalam ruang yang tidak hampa, melainkan sarat nilai budaya dan konteks sosial.

Poin terakhir yang kepikiran sama saya sekarang adalah budget dan resources. Iklan yang kreatif dan award winning itu tidak murah. Mungkin eksekusinya bisa sederhana dan murah, tapi aktor intelektualnya tentu tidak murah. Pernyataan ini mungkin bisa disanggah tapi kenyataannya, perusahaan periklanan besar dan terus membesarlah yang memenangkan award.

Iklan yang dihasilkan dengan biaya yang tidak murah itu tentu tidak berdiri sendiri. Iklan yang award winning juga biasanya didukung oleh resources lain. Biaya placementnya, misalnya. Iklan-iklan yang bercerita panjang lebar, memakan slot yang lebih banyak dan menyedot budget yang lebih besar.
Jangan-jangan kesuksesan iklan award-winning dalam mendongkrak penjualan, bukan disebabkan oleh kreatifitas dan inovasinya, melainkan karena iklan tersebut memang ditunjang oleh budget placement yang besar pula.

Dan bukankah budget yang besar merupakan indikasi adanya resources-resources yang lebih besar? Jaringan distribusi, kemampuan menekan harga, misalnya. Jadi iklan tidak berdiri sendiri. Bukan hanya soal RoI (Return on Investment) dalam kegiatan advertisingnya saja.

Kelima poin ini bukan berarti saya anti terhadap iklan yang kreatif. Saya hanya mengatakan bahwa, advertising adalah industri yang tidak berdiri sendiri, dan kreativitas bukan segalanya. Kreativitas adalah penting ketika ia telah menjadi tuntutan industri, dalam suatu iklim industri yang sehat, di mana masyarakat memiliki literasi dan apresiasi yang tinggi. Dalam kondisi inilah media massa menjadi sedemikian cluttered dan persaingan telah sedemikian keras, sehingga kita membutuhkan iklan-iklan yang outstandjing!

Monday, August 28, 2006

Media Literacy

Media Literacy adalah kemampuan seseorang untuk dapat menangkap kandungan media tanpa terjebak dalam kepolosan. Melek dan aware, jadi tidak polos dan lugu dan naif dalam mengkonsumsi dan menggunakan media massa.


Asumsi Dasar Media Literacy yang saya contek dari blog tetangga:

1. All media messages are "constructed."
2. Each medium has different characteristics, strengths, and a unique "language" of construction.
3. Different people interpret the same media message in different ways.
4. Media messages are produced for particular purposes, including profit, persuasion, education, and artistic expression.
5. Media have embedded values and points of view.

Mengapa tidak diterjemahkan? Karena bahasa indonesia saya tidak sebagus itu :)

Rektorat Dan Mahasiswa



Kejadian di Mataram membuat kita marah. Seorang mahasiswa tewas dan beberapa luka-luka oleh preman yang direkrut Rektorat, dan Yayasan Ikip Mataram. Kita bisa lihat di TV, bagaimana preman-preman itu menghunus pisau, memukul, mengamuk, menusuk, di depan kamera! Kejadiannya dipicu oleh protes mahasiswa terhadap penggantian Rektor, serta direkrutnya preman-preman untuk melindungi rektor yang baru ini.

Saya ucapkan belasungkawa, semoga amal ibadah mahasiswa itu diterima Allah. Semoga teman-temannya yang lain tidak berhenti berjuang, Semoga Yayasan Ikip Mataram mendapat balasan setimpal.

Kemudian, kejadian di atas membuat saya berpikir lagi tentang hubungan Rektorat dengan Mahasiswa, di kampus saya sendiri. Di Unpad.

Kebetulan di Unpad juga pemilihan rektor baru.

Rektorat, penyelenggara layanan pendidikan. Mahasiswa, pengguna layanan pendidikan.

Ketika mahasiswa berusaha mengkritisi penyelenggaraan pendidikan di kampusnya, seringkali mereka terjebak pada isu-isu yang sama: Transparansi Dana, Partisipasi Mahasiswa, Fasilitas, Dana-dana-dana.

Mungkin isu semacam itu masih populer dan strategis untuk mendapat dukungan teman-teman sebanyak-banyaknya, tapi harus kita sadari bahwa isu-isu seputar dana dan fasilitas itu tidak fundamental.

Fundamen dari insitusi pendidikan adalah penyelenggaraan pendidikan. Mereka, para birokrat kampus sebagai penyedia jasa pendidikan, dan kita yang mendapat jasa tersebut.

Dana pendidikan tidak dibayar sepenuhnya oleh mahasiswa, apalagi di PTN. Maka sebenarnya yang berhak menuntut kepada para Birokrat Kampus, Penyelenggara Pendidikan itu bukan hanya kita sebagai mahasiswa, melainkan seluruh stakeholder pendidikan yang meliputi para pembayar pajak, masyarakat, dunia usaha, industri, semua orang. Karena penyelenggaraan dibayar oleh kita semua warga negara indonesia, melalui APBN, hingga cost-cost yang lain misalnya social cost.

Mahasiswa dan Penyelenggara Pendidikan harus bekerja sama dalam kegiatan belajar-mengajar, demi menghasilkan generasi muda yang cerdas dan mencerdaskan. Untuk tujuan inilah, masyarakat yang lain memberikan kesempatan belajar di perguruan tinggi pada kita. Untuk tujuan inilah, hegara dan masyarakat ’membuka jalan’. Karena tidak hanya negara dan orangtua murid yang memberi kontribusi terhadap penyelenggaraan pendidikan, melainkan seluruh masyarakat. Naiknya harga BBM dirasakan semua orang, tapi kan mahasiswalah yang mendapat Kompensasinya. Itu baru satu contoh.

Kembali, penyelenggaraan pendidikan tinggi harus dipertanggungjawabkan bukan kepada mahasiswa, melainkan kepada semua stakeholder, masyarakat.

Tanggung jawab mahasiswa adalah menjalani kuliah dengan sebaik-baiknya, memastikan bahwa ia mendapat apa yang menjadi haknya (yang telah diberi oleh masyarakat yang lain), serta lulus dan menggunakan pengetahuannya untuk kepentingan orang banyak.

Tanggung jawab penyelenggara pendidikan adalah memberi layanan pendidikan, sesuai standar kompetensi.

Jadi tuntutannya bukan fasilitas dan transparansi dana (!), melainkan layanan pendidikan.

Ilustrasinya begini. Ada SPBU yang toiletnya bersih ada SPBU yang toiletnya kotor. Tapi apakah konsumen menuntut toilet yang bersih dari sebuah SPBU? Tidak. Tuntutan yang paling relevan dari seorang konsumen SPBU adalah layanan pengisian bahan bakar yang tepat takarannya, bersih, dan cepat, dan mengembalikan uang recehan. Itu tuntutan untuk sebuah SPBU, sementara toilet yang bersih atau musola, atau lap kaca—misalnya, hanya merupakan added value sebagai penunjang layanan inti.

Sama dengan di perguruan tinggi. Pertama-tama mereka menyediakan jasa pendidikan. Manifestasinya berupa kebijakan, program, hingga pelaksanaan pendidikan.

Misalnya, Fikom bertugas menyelenggarakan pendidikan tinggi dalam bidang komunikasi.

Pertama, mereka harus merumuskan standar kompetensi seperti apa yang mereka tawarkan. Standar kompetensi yang dijanjikan ini, sederhananya dalam bentuk Jurusan dan Gelar (PAKT, D3, S1, Broadcasting, S.Sos dalam bidang PR).

Kedua, untuk mencapai kompetensi ini mereka merumuskan program, kurikulum, materi.

Ketiga, untuk mencapai kompetensi tersebut, melalui program yang telah dibuat, mungkin membutuhkan berbagai penunjang. Misalnya tenaga pengajar, ruang kelas, lab, kegiatan praktikum, toilet, kantin. Semua ini kemudian menyusul belakangan. Pengadaan setiap penunjuang ini, harus jelas apa relevansi dan urgensinya dengan tujuan utama pendidikan tinggi itu sendiri (penyelenggaraan pendidikan).

Jadi, ketika kita semua terjebak pada transparansi dana dan fasilitas, kita semua terjebak pada hal yang tidak fundamanetal dan melupakan inti dari semua ini.

Yang pertama kita tuntut seharusnya proses penyelenggaraan pendidikan itu sendiri. Apa yang telah diberikan oleh PTN untuk mencerdaskan mahasiswa. Bagimana kontrol dan pengembangan mutu pendidikan. Itu.

Bagaimana mahasiswa dapat mengajukan tuntutan kepada perguruan tinggi, kalau mereka sendiri tidak tahu apa yang seharusnya mereka tuntut. Layanan pendidikan seperti apa yang seharusnya mereka harapkan. Program pendidikan sepertai apa yang seharusnya mereka harapkan. Hingga dibreakdown ke hal terkecil. Tapi berangkat dari peta, gambar besarnya dulu. Jadi ngga sporadis dan reaktif.

Berarti yang urgen adalah tersedianya Cetak Biru Program Pendidikan.
Gambar/skema/diagram ini harus dirumuskan dengan melibatkan semua stakeholder mulai dari akademisi hingga kalangan industri dan dunia usaha, lalu hasilnya harus dapat diakses semua orang terutama mahasiswa dan orangtua dan masyarakat.

Jika semua orang tahu seperti apa Ideal State (cetak biru tsb) semua orang dapat ikut mengontrol, apakah benar cetak biru itu yang diusung. Apakah memang seluruh kegiatan di dalam perguruan tinggi itu memang ditujukan untuk mewujudkan cetak biru tersebut.

Karena itu, pertama yang paling penting komitmen semua pihak. Kedua, kordinasi dan sinergi. Ketiga, akses informasi. Keempat, saluran kontrol dan aspirasi. Kelima, mekanisme evaluasi. Kelima hal ini yang mungkin harus ada dalam setiap penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Cetak biru (the ideal state) yang saya maksud, bentuknya terdiri dari berbagai tahap dan tingkatan. Mulai dari yang paling general, tujuan pengajaran, silabus mata kuliah, hingga agenda kegiatan belajar mengajar. Semua inilah yang harus dapat diakses semua orang lalu diusung bersama-sama.

Kondisi ini masih jauh untuk dapat menjadi kenyataan, ketika banyak mahasiswa yang tidak hapal apa saja matakuliah yang diambilnya pada suatu semester, ketika dosen gelagapan ketika dimintai silabus kuliahnya.

Tidak heran jika ada dosen yang mengulang-ulang materi kuliah setiap minggu, dan tidak ada mahasiswa yang memprotesnya.

Ketika di tengah jalan kita tidak tahu arah, kita masih bisa bertanya.
Tapi jika di tengah jalan kita lupa sama tujuan kita sendiri, mau bertanya sama siapa?

Thursday, August 24, 2006

Tentang Ospek (loh, bukan tentang media dan advertising lagi?)

Mahasiswa fikom unpad telah begitu banyak, seiring tren yang berkembang dalam industri yang berhubungan dengan komunikasi, dan kebutuhan fakultas akibat BHMN.

Berapa ribu mahasiswa fikom? Angka pastinya saya tidak tahu. Dan bukan tentang angkanya nih, sebenarnya. Terasa dari sumpeknya suasana di kampus pas prime time jam kuliah. Terasa dari susahnya mencari ruangan kalo jadwal kuliah diganti. Terasa dari banyaknya muka-muka asing yang ditemui di kampus.. Tentu ini salah satu dasar pemikiran yang membuat sebagian kita berpikir perlunya ospek. “demi persatuan” “kekompakan”, “mengenal kampus”, “saling kenal”, dsb..

Saya tidak tahu di mana hasil ospeknya. Ternyata kita semua masih belum saling kenal satu sama lain, ternyata kita masih sering kebingungan dalam mengisi KRS, ternyata kita masih belum tahu nama dan muka setiap dosen, ternyata masih ada yang bingung parkir, ternyata tidak banyak yang didapat dari ospek.

Karena gagasan-gagasan ideal dalam ospek fakultas, sebenarnya tidak realistis lagi. Tidak relevan pula. Inilah yang ingin saya sampaikan. Bahwa dalam kerumunan yang terlalu crowded ini, gagasan tentang persatuan, keakraban, dsb itu tidak relevan. Bahwa untuk orientasi mahasiswa terhadap lingkungan kampus, semua akan belajar sendiri. Dan proses belajar itu terus dijalanai sampai lulus nanti. Kita terus mengubah dan menyesuaikan orientasi kita terhadap kampus ini. Ada atau tidak ada ospek.

Dalam kerumunan di kantin tadi pagi, saya membayangkan betapa sebenarnya kita ini seperti segerombolan manusia dalam sebuah angkot. Secara fisik kita begitu dekat, saling bersentuhan malah. Tapi kita tidak tertarik untuk saling menyapa, atau sekadar tersenyum. Kecuali terhadap beberapa teman yang kebetulan bertemu di angkot tersebut. Kita berbagi ruang dalam angkot tersebut. Tapi masing-masing datang dari tempat yang berbeda, dan dengan tujuan yang berbeda-beda pula. Kebetulan saja sekarang lagi ada di tempat yang sama. Sekadar singgah, sekadar lewat. Karena toh, kita semua tahu ini menuju ke mana. Kita semua tahu nanti akan turun di mana, sewaktu-waktu, cepat atau lambat. Angkot itu, seperti kuliah, udah ada rutenya, udah ada sopirnya. Tinggal kita mau turun di mana.

Maka, sekelompok orang yang bergabung dan mengatasnamakan seluruh penumpang angkot, tidak akan terlalu menarik untuk penumpang yang lain… Buat apa lah…
Toh mereka tidak akan bisa mengubah rute angkot tersebut, misalnya. Tidak ada cukup legitimasi dan otoritas untuk melakukan sesuatu yang signifikan. Ini saya bicara analogi tentang Lembaga Kemahasiswaan.

Karena hubungan antara suatu rejim pengurus Lembaga Kemahasiswaan (BEM), dengan ospek yang diadakan pada tahun tsb ternyata sangat erat. Sinyalemennya ke arah sana. Entah sekadar pembuktian achievement lah, entah bagian dari program regenerasi lah, entah mau doktrin apa lah.. Kental sekali pengaruh rejim nya. Kiri-kanan, klasik sekali….

Pada akhirnya, saya pikir kalopun toh keukeuh mau bikin ospek tingkat fakultas, silahkan saja. Asal jangan ganggu kuliah, asal jangan pake urat, asal jangan lupa solat haha..

Toh, buat isi waktu aja. Iseng-iseng kan?
(btw, dulu sebagai MaBa, saya ikut sampai Kiara Payung loh)

Kepada Siapa Pembuat Iklan Bertanggung Jawab?

Saya sering membayangkan. Sekumpulan orang kreatif sedang brainstorming, ketawa ketawa sambil nunggu delivery junkfood mereka datang. Sementara itu para Manajer Pemasarannya Klien mencibir, "Lihat mereka, berandalan urakan yang sombong, making fun of our precious budget"

Saya ingat sebuah tulisan orang bule di Cakram edisi lama yang sampulnya cewe keriting makan Indomie. Tulisan itu tentang model Fee perusahaan Iklan. Dia merekomendasikan sebuah model Bagi Hasil, di mana pekerjaan Agency diukur dari pencapaian yang diharapkan. Sebuah model Kemitraan.

Kepada siapa pembuat iklan harus mempertanggungjawabkan karya mereka?
(ini mengingatkan kita pada Sembilan Elemen Jurnalisme, Kovach&Rosenthiel)

Kepada orang Account?
Kepada Pak Bos yang menggaji?
Kepada keluarga dan pacar?
Kepada klien?
Kepada sekelompok Watchdog yang berpedoman pada sebuah Etika Periklanan?

Kita semua, dengan serempak mungkin akan mengatakan bahwa orang iklan bertanggungjawab terutama kepada masyarakat. Kepada merekalah pesan berupa iklan tersebut ditujukan. Dan merekalah yang diharapkan akan memberi respon terhadap pesan tersebut. Namun masalahnya bukan hanya tentang kepada siapa, tetapi bagaimana cara mempertanggungjawabkan dan mengevaluasi karya iklan tersebut.

Tapi kemudian kita akan terjebak dalam teks (Etika Periklanan?). Dilarang mencantumkan kalimat superlatif: ter-, paling, dsb. Padahal sebuah karya tidak dapat dipahami sedemikian sederhana dan tekstual saja. Jadi bagaimana?

Tugas seorang pembuat iklan bukan hanya membujuk dan merayu, bukan pula membuat lucu-lucuan dari budget klien.Tugas seorang pembuat iklan adalah, membantu khalayak untuk menemukan relevansi antara sesuatu yang ditawarkan, dengan apa yang menjadi kebutuhan mereka.
And there you have it.

Definisi ini sudah mulai bisa dioperasionalisasikan, dalam rangka merumuskan metode evaluasi dan pertanggungjawaban. Sekaligus juga, definisi ini begitu rentan terhadap kritik. Maka silahkan disanggah. Terimakasih.

Dan untuk kita renungkan, seorang dosen saya pernah berkata:
"Suatu hari nanti kalian mungkin akan lulus dan segera menjadi buruh. Namun setidaknya saya berharap agar kalian tidak menjadi buruh-buruh yang naif, melainkan buruh yang dapat melihat The Big Picture atas apa yang sedang terjadi"

Dosen saya itu bukan sembarang Marxist. Dia adalah perempuan bergelar Doktor yang masih melajang. Dengan pesona intelektual.

Dan kita adalah buruh. Buruh berkerah. Buruh bermobil. Buruh dalam cubicle yang stylish, dengan akses wifi dan AC yang dingin di lantai sekian. Buruh dengan Kartu Hutang berwarna Silver atau Bening. Maka, mari kita menjadi buruh yang sadar. Buruh yang dapat melihat GambarBesar atas apa yang sedang terjadi. There's a lot more to think about.

Perspektif Habermas (Menuju Ruang Publik yang Ideal dan Masyarakat yang Komunikatif)


Habermas dan Peran Penting Ruang Publik
Semangat pencerahan yang melanda Eropa berkeyakinan bahwa akal manusia dapat mengatasi segala mitos dan penindasan yang dialami selama masa feodalisme. Mitos, kepercayan dan tahayul digantikan oleh akal yang rasional, ilmiah, terukur dan objektif. Segala kemampuan ini diinstrumentalisasikan manusia dalam rangka produksi yang efektif dan efisien.
Semangat kemampuan teknis dalam peradaban manusia ini, selain berhasil melepaskan manusia dari penindasan dan kungkungan tradisi, ternyata justru melahirkan bentuk penindasan baru, antara manusia dan manusia. Dalam rasio teknis ini, logika manusia tereduksi dalam kepentingan teknis semata, sehingga mengesampingkan kepentingan-kepentingan lain yang terdapat dalam masyarakat, beserta nilai-nilai kemanusiaan.
Masalah inilah yang berupaya dkritik oleh Mazhab Frankfurt. Adorno dan Horkheimer, serta Marcuse, melalui karya mereka masing-masing berupaya menunjukkan cacat-cacat yang terdapat dalam Semangat Pencerahan ini, yang terumuskan dalam nilai-nilai modernitas. Mereka semua sepakat bahwa modernitas, dengan rasio teknis-instrumentalnya telah membentuk totalitarianisme-administratif.
Apa yang disebut oleh Weber sebagai Zweckrationalitat, rasionalitas-bertujuan, dalam praktek kemasyarakatan akan mereduksi nilai-nilai kemanusiaan menjadi sekadar hubungan objektivisasi yang menyebabkan manusia saling menindas satu-sama lain.
Untuk semua kritik ini, Mazhab Frankfurt amat dipengaruhi oleh pemikiran Marxisme. Teori Kritis mengalami kebuntuan ketika ternyata, setiap bentuk antitesis akhirnya melahirkan sintesis kemapanan baru, yang juga memiliki potensi reduksi dan penindasan.Dalam wacana kritik-kritik terhadap modernitas, yang berujung pada kebuntuan inilah kemudian Habermas muncul. Seperti para pendahulunya di Mazhab Frankfurt, Habermas banyak dipengaruhi oleh Marxisme dalam menganalisa kondisi masyarakat secara tajam.Ada banyak terobosan (memasukan Mitologi Yunani? Menggunakan PsikoAnalisis Freud? dsb) yang ditawarkan dalam pemikiran Habermas untuk mengatasi kebuntuan-kebuntuan dalam kritik terhadap modernitas. Terobosan-terobosan itu –terutama dari konsep Rasio Komunikatif/Interaksi nya- menjadikan kritik Habermas lebih tajam tapi sekaligus komprehensif. Habermas mengurai konstelasi kepentingan-kepentingan dalam masyarakat, menawarkan suatu bentuk masyarakat ideal, dalam kritik-kritiknya.
Berbeda dari para pendahulunya, Habermas tidak terpaku dalam sorotan terhadap kepentingan teknis semata. Menurut Habermas, masyarakat memiliki 3 jenis kepentingan yang masing-masing memiliki pendekatan dan rasionya masing-masing.Kepentingan Teknis, adalah kepentingan untuk menyediakan sumberdaya natural. Karena sifatnya yang sangat instrumental —dengan tugas yang konkret— kerja, pada dasarnya adalah kepentingan yang “teknis”.Kepentingan yang kedua adalah interaksi. Karena kerjasama sosial amat dibutuhkan untuk bertahan hidup, Habermas menamakannya kepentingan “praktis”. Ia mencakup kebutuhan-kebutuhan manusia untuk saling berkomunikasi beserta praktek-prakteknya.Kepentingan yang ketiga adalah kekuasaan. Tatanan sosial, secara alamiah cenderung pada distribusi kekuasaan, namun pada saat yang sama, kita juga memiliki kepentingan untuk membebaskan diri dari dominasi. Kekuasaan mengarah pada distorsi terhadap komunikasi, namun dengan menjadi sadar akan adanya ideologi-ideologi yang dominan di masyarakat, suatu kelompok kemudian dapat memberdayakan dirinya untuk mengubah keadaan. Maka, kepentingan kekuasaan adalah kepentingan yang “emansipatoris”.
Masyarakat selalu mengandung ketiga jenis kepentingan ini. Pertentangan antar kepentingan-kepentingan yang ada, hanya dapat diselesaikan tanpa dominasi salah satu kepentingan di atas yang lain, melalui perdebatan yang rasional.Di sinilah Habermas memperkenalkan konsep Ruang Publik. Baginya, Ruang Publik adalah wahana di mana setiap kepentingan terungkap secara gamblang, setiap warga masyarakat memliki akses yang sama untuk berpartisipasi, kemudian mereka terdorong untuk mendahulukan kepentingan bersama dan mencapai konsensus mengenai arah masyarakat tersebut ke depan dan menemukan solusi bersama dalam memecahkan maasalah-masalah yang mereka hadapi.Ruang Publik hanya dapat mencapai fungsinya ketika telah tercipta Situasi Berbicara yang Ideal. Situasi yang ideal ini, adalah keadaan di mana klaim-klaim yang diperdebatkan dapat dibicarakan dan diargumentasikan secara rasional. Dalam situasi ideal ini, kebenaran tidak menjadi objek dari kepentingan tersembunyi dan permainan, melainkan muncul lewat argumentasi.
Ruang Publik ini juga merupakan jembatan interaksi antara penguasa dan masyarakat. Kekuasaan, mencapai legitimasi dan pengakuan masyarakat, serta memahami arah yang diinginkan masyarakat melalui dialog dalam Ruang Publik. Sementara masyarakat dapat menyuarakan kepentingannya agar dapat diakomodir oleh penguasa.Hanya melalui Ruang Publik inilah, dapat terwujud masyarakat yang dewasa dan bebas dari penindasan-penindasan dan menanggulangi krisis yang mereka hadapi.
Media Massa Sebagai Ruang Publik
Ruang Publik, dalam prakteknya dapat terwujud dalam berbagai kesempatan. Habermas menyoroti kemampuan pers atau media massa untuk menjadi sebuah Ruang Publik yang dapat menjalankan fungsinya.Media massa, dengan jangkauannya yang luas dan kandungan informatif yang dimilikinya, bersentuhan langsung dengan wilayah publik. Hanya saja, Habermas mewaspadai bahwa keberadaan media massa tidak terlepas dari kepentingan privat yang menyelenggarakannya. Kepentingan privat ini harus ditampilkan secara terbuka dan dikesampingkan di bawah kepentingan publik.